Selasa, 31 Desember 2013

Piece of Him


PROLOG
Langit terlihat  kusam, mungkin karena baru turun hujan. Jalan di sekitar kami basah, juga daun-daun pohon yang masih terdapat bulat bulat kristal  titik hujan. Entah sejak kapan aku menjadi secanggung ini. Sudah kupikirkan beberapa topik pembicaraan tapi sungguh, aku tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Aku agak mencondongkan badan dan melirik kesamping, kulihat dia juga membatu entah sejak kapan. Mata kami saling bertemu kembali, aku berusaha membuang tatapan darinya dengan sewajar mungkin. Bangku yang kami duduki berderit pelan, mungkin dia bergerak sedikit ingin memperbaiki posisi duduknya. Aku tidak berani menatap kearahnya. Keheningan diantara kami semakin menjadi-jadi.
“ Aku  akan pergi ke Seoul, kau mungkin sudah dengar?” Zero mengawali pembicaraan dengan nada ragu.
“ ya, aku sudah tau itu. Aku dengar dari teman-teman” jawabku dengan nada rendah
“ Jadi berita kepindahanku sudah tersebar ya?? Huh, tak kusangka aku benar-benar popular di kalangan cewek-cewek..” dia mengkekeh pelan sambil tersenyum . Sungguh senyuman yang ingin sekali aku miliki selama ini.
Entah mengapa melihat dia tertawa seperti itu, mengigatkanku pada waktu itu. Aku mendongak menatap langit yang mulai cerah. Beberapa burung bernyanyi memecah keheningan di antara kami, menari dilangit yang biru.
flashback
Suatu hari di taman sekolah. Bayangan itu masih terekam jelas di ingatanku, saat dia berdiri di depanku sambil membawa batang kayu yang diacungkan kepadaku dengan wajah cerahnya. Aku yang masih setengah tertawa karena peristiwa sebelumnya,  ketika dia membuang kayu yang ada di tangannya dengan melemparnya kearak tembok samping perpustakaan. Sialnya kayu itu  mengenai salah satu guru yang lewat sekitar kami . ternyata guru Shin, guru sejarah kami yang terkena pukulan kayu itu. Alhasil semua murid yang ada disekitar taman tertawa. Akupun juga ikut tertawa J
 Dia semakin mendekat padaku dan mengacungkan batang kayu itu. Aku  berteriak padanya “ Ze, Cepat buang batang itu. kalau kena ,sakit beneran tau?!,”..
Dia tetap tak menggubris “ Kenapa kau tertawa , tidak ada yang lucu kan ” Aku berusaha bangun dari tempatku duduk dan memegang lengan temanku yang berada persis di sampingku . Dia terus mendekat kearahku. Saat jarak kami mungkin hanya tinggal setengah meter, dia melepas sebatang kayu  yang ada di tangan kirinya. Tersenyum samar padaku dan berbalik badan sambil membersihkan tangan kirinya yang tadi memegang batang itu dengan mengusapnya ke celana bagian saku belakang. Dasar dia mau mempermainkan aku lagi..
Melihat dia dari belakang, dia memang terlihat sangat gagah dan keren. Yaa, Zero memang  tampan. Aku akui itu, bukan hanya aku yang mengakuinya tapi hampir semua gadis normal di sekolah. Selain itu dia orang yang ramah dan tidak pernah pilih-pilih teman. Aku tersenyum sedikit dan segera kembali pada kedua temanku yang dari tadi kuacuhkan..
“Chik, siapa dia??” Tanya salah satu temanku memecah perhatianku.
“Heh, maksudmu dia tadi??” jawabku sambil menunjuk pada zero yang telah kembali pada kerumunan teman-temannya di sudut taman.
 “ ya iyalah, sapa lagi!!” sahut Yoan tak sabar.
“ Em, teman satu kelas kok.. Kenapa emang??”
“ Kau kelihatan akrab dengan dia, … ” wajah Yo ah penasaran dan sedikit menggodaku.
“ Hello, …terserahmu saja.. ..” sahutku ketus
_ _ _ _ _ _
“ Huh” aku membuang nafas pelan ke udara, untuk kembali ke kenyataan.
“ Apa?” dia menatapku dengan penasaran. Aku sedikit kaget, tak kusangka dia mendengar desahanku.
“ tidak apa-apa…. Kapan kau akan berangkat ke Seoul?”
“ Emm,,,kalau tidak ada masalah, besok aku berangkat” jawab zero sambil menerawang langit.
Aku benar-benar kaget, tidak bisa berkata apun. Aku tidak percaya kalau Zero benar-benar akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Mendengar berita itu membuat telingaku  mendenging, aku tertunduk lesu. Tak terasa mataku agak berkaca-kaca. Aku segera mendongak keatas agar air mataku tidak menetes.
Kenapa aku ini??
 Dia bukan siapa-siapa untukku. Dia hanya teman kecilku, hanya teman yang tidak pernah saling akrab. Dia bukan pacarku, aku tidak pernah punya hubungan special dengannya……. Tapi kenapa aku harus sakit saat dia pamit pergi ?? kenapa…
Bukan, ….dia cinta pertamaku,. Ya…Kenyataannya dia memang cinta pertamaku,,,,  memang benar!!!
“ kau….. tidak mau mengatakan kata-kata perpisahan untukku!!?? Sebagai  sahabat sejak kecil” dia membuyarkanku. Kata-katanya datar, benar-benar tenang.
“ benarkan?? Kita teman sejak taman kanak-kanak. Dulu waktu sekelas di SMP kau yang mengatakan itu padaku..”
Tak kusangka dia mengingat soal itu. Dadaku rasanya semakin sesak. Tak kuat menahan  air mata yang dari tadi kubendung. Ku letakkan tanganku dia depan dada, rasanya sakit di sini. Di dalam sini,,,, terasa sesak…… Kenapa aku harus menangis?? Apa yang kutangisi…..
Kucoba untuk buka mulut setenang mungkin. “ ooh, jadi benar kau berangkat besok!! Seoul itu kota yang bagus dan indah, pastinya kau akan senang disana”.. hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Ada ribuan cerita yang ingin kubagi dan ceritakan padamu, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya , saat aku didepanmu aku tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara panjang denganmu. Akupun juga terlalu naïf dan takut untuk itu…
Kami berdua diam membatu selama beberapa saat.
“ Apakah hanya itu kata-kata yang akan kau katakan padaku, ? Hanya itu saja….. Sejujurnya, ada waktu dimana aku benar benar menyukaimu waktu itu ” kata-katanya serasa menerkamku. Dia benar-benar memandangku lekat-lekat dengan suara yang sangat rendah.
Mendengar kata-katanya seperti mendengar petir di siang hari yang cerah. Suka??? Dia benar-benar mengatakan itu. Aku tidak salah dengar bukan??
Aku  berusaha memandang matanya. Mata Zero yang selama ini selalu ku hindari. Mata yang beberapa kali kulihat dengan tidak sengaja.. Mata yang sangat indah, mata yang selalu ku harap untuk memandangku, hanya memandangku saja….. mata kami saling bertemu, dia terlihat agak pucat tapi dengan sweeter abu-abu dan kaos putih yang dia kenakan, dia terlihat sangat keren dan modis.
Kali ini saja aku ingin sekali berkata jujur padamu tanpa perasaan ego dan takut yang selama ini kutahan. Hanya kali ini saja kesempatanku untuk berbicara…. Hanya sekali ini saja,, aku mengambil nafas pelan sambil sedikit mengusap air mataku yang telah mencapai pipi..
“ Sukaa??.... Mendengar kata itu selalu mengigatkanku pada masa kita kanak-kanak. Kita masih sangat kecil, dan lucu. Kita masih sangat kecil dan tidak mengerti arti sebuah suka. Benarkan?? Aku tersenyum samar-samar
Dan berusaha mengeluarkan suara kembali.
            “ Aku pasti tidak akan pernah melupakan saat itu, saat dimana aku pertama bertemu denganmu, saat dimana kita bisa bermain tanpa beban dan tak punya pikiran seperti orang dewasa. Aku ingin sekali merasakan hal itu kembali..Kau memberiku perasaan yang berbeda dengan orang lain, kadang kau bersikap cool tapi aku tau kau sangat peduli padaku.. terima kasih untuk semuanya. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu karena kau orang yang mengenalkanku pada cinta dan memberi arti sebuah kebahagiaan. Thanks for everything ”
            “ Kalau kita kembali ke masa itu apakah kita bisa merubah masa depan?” zero memandang lurus menerawang bunga-bunga di taman depan kami.
            “ Kurasa tidak ada yang akan berubah bukan. Tidak ada seorangpun yang dapat kembali ke masa lalu untuk merubah masa depan. Masa lalu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, sepahit apapun kenyataannya” nafasku sudah kembali normal dan berbicara dengan terkontrol.
Zero berdiri disampingku dan berjalan mendekat kearahku. Tangan kirinya menggapai tanganku dan membuat aku tepat berdiri di hadapannya sebelum aku mendongak ke atas. Tangannya yang hangat memegang tangan kananku dengan lembut. Tangannya masih sama seperti dulu yang kuingat, jari tangan yang panjang dan sangat lentik. Tangan kanannya bergerak memegang  tangan kananku, dan melepaskan tangan kirinya dariku…
Kami saling berjabat tangan…………..,,
            “ Aku ingin bila suatu saat nanti kita bertemu, kita dapat saling berjabat tangan dan menyapa seperti ini layaknya seorang teman. Bukan malah merasa seperti tidak kenal dan canggung. Masa lalu itu, aku senang bisa mengenalmu. Kau gadis yang istimewa, kau tidak sama dengan gadis yang selama ini kukenal. Maukah kau??” Zero berkata sambil terus memegang erat tanganku.
Sebutir Kristal air meleleh di pipi kananku. Kali ini aku tidak berusaha menyekanya..
            “Tentu saja, kita teman bukan!” aku balik memegang erat tangannya. Jantungku masih berdetak kencang seperti dulu tiap aku bersamanya.
            “ Semoga di Seoul  menyenangkan. Disana pasti akan ada banyak hal baru yang menyenangkan. Kalau adalah laki-laki yang istimewa. Dan kau tahu itukan. Jadilah dirimu sendiri, percayalah pada dirimu. Zero yang kukenal tidak akan berubah menjadi orang lain.” Aku berusaha menatap matanya, mungkin ini terakhir kali aku bisa menatapnya seperti ini.
            “ Terima kasih” dia balik tersenyum padaku. Aku bisa mereasakan tangannya menggegam erat tanganku.
Beberapa detik kami diam. Terdengar klakson mobil entah dari simpang jalan yang mana. Kami saling melepaskan tangan. Ya inilah akhirnya…..
            Hujan sudah reda, aku pergi duluan!! Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi” dia benar-benar berpamitan padaku. Dia tersenyum dalam sambil membalikkan badan dan berjalan cepat menuju seberang jalan sebelum mobil warna silver lewat. Dari ujung jalan dia melihatku, aku tersenyum padanya beberapa saat. Dia balas tersenyum padaku. Selangkah demi selangkah dia pergi dari hadapanku. Aku bisa melihat punggungnya dari kejauhan yang semakin hilang.  inilah akhirnya…. Aku berusaha melihatnya lekat-lekat, karena mungkin inilah kesempatan terakhir aku melihatnya. Aku tidak akan menangis lagi. Inilah akhir dari cerita kami…,, aku pernah mendengar sebuah bait, entah bait apa ….
Every meeting, it’s happiness
No matter where or when, whoever you meet…
Or how the ending goes
It’s all type of happiness”
Ya, pertemuan adalah sebuah kebahagiaan. Bertemu dengan dia tak mungkin bisa begitu saja kulupakan. Kami pernah mengalami  masa-masa indah bersama  yang telah terlanjur membekas seperti kulit pohon yang disayat batangnya.  Zero adalah cinta pertamaku …., Cinta pertama di dalam hidupku yang memberikan kebahagiaan bagi gadis biasa sepertiku.
Selamat tinggal Zero………….. Biarkan waktu yang akan menghapus  kita, seperti tapak kaki diatas salju putih yang semakin hilang ditimpa secercah salju yang turun kemudian!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar